Suasana pagi di SDN Banyubiru 2 hari itu dipeluk kehangatan yang tak biasa. Embun yang menggantung di dedaunan halaman sekolah seolah menyerap desah doa dan harapan dari seluruh warga sekolah. Hari itu menjadi momen bersejarah ketika armada SDN Banyubiru berhasil menancapkan panji kejayaan pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026. Dari tujuh cabang perlombaan yang bergengsi, enam piala berhasil diboyong pulang—sebuah capaian manis yang melengkapi piala kebanggaan sekolah.
Namun, di antara riak sorak kemenangan tersebut, ada satu kisah yang paling memikat hati. Sebuah drama perjuangan nan hangat yang terukir dari panggung Ndagel Ijen—seni komedi tunggal bernapas lokal—yang dibawakan dengan begitu apik oleh Bilal Rizqi Choyuna, murid kelas 5A yang bermukim di Tegalurung.
Benih Keberanian dari Bujukan Warmah Guru
Kisah kemenangan ini tidak lahir dari jalan yang lurus dan rata. Jauh sebelum panggung FTBI riuh oleh tepuk tangan juri, pencarian sosok pengocok perut ini diwarnai keraguan. Pak Fajar, sang guru pembina, sempat dirundung buntu. Berbiji-biji siswa telah dicoba dalam ruang seleksi, namun belum ada satu pun yang mampu memantik nyawa humor yang pas dengan karakter Ndagel Ijen.
Di sudut lain, Bilal—bocah berwajah polos yang akrab disapa Bilal—sebenarnya memiliki potensi terselubung. Sayangnya, pintu hatinya rapat terkunci; ia sama sekali tak berminat untuk mengikut seleksi. Namun, intuisi dan bujukan hangat dari guru-guru sekolah perlahan mampu meluluhkan dinding kecanggungannya. Dengan malu-malu, Bilal akhirnya mencoba melangkah ke depan kelas untuk memamerkan beberapa kelakar. Begitu ia mengocok perut audience dalam uji coba pertama, matanya memancarkan karakter alami seorang komedian. Saat itulah, Pak Fajar menetapkan keyakinannya tanpa ragu: dialah sang lakon utama yang dicari.
Tempaan Satu Bulan: Kolaborasi Hati dan Ide
Perjalanan menempa bakat pun dimulai. Selama satu bulan penuh, lorong dan ruang kelas SDN Banyubiru menjadi saksi beralihnya waktu dari siang ke petang. Semangat Bilal membumbung tinggi bak layang-layang dihembus angin pesisir. Bagaimana tidak, ia dilatih langsung oleh Pak Fajar, sosok guru favorit yang selalu bisa memahami cara belajarnya.Setiap tawa yang dirancang tidak berdiri sendiri. Pak Sarindi, Kepala Sekolah SDN Banyubiru, turut hadir menuangkan racikan ide, saran, dan motivasi yang membangun mentalitas sang siswa. Segala alur cerita, gestur tubuh, hingga intonasi bahasa daerah dipoles dengan telaten dan sabar. Keringat dan lelah seolah menguap setiap kali Bilal berhasil memperagakan adegan lucu dengan mimik wajahnya yang khas.
Kamis Keberanian di Panggung Kecamatan Dukun
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya mengetuk pintu. Kamis, 10 September 2026, helatan FTBI 2026 resmi digelar di salah satu sekolah di Kecamatan Dukun. Atmosfer kompetisi terasa ketat; anak-anak terbaik dari berbagai sekolah beradu ketangkasan melestarikan bahasa ibu.
Saat nama Bilal dipanggil ke atas panggung, detak jantung pelatih dan kepala sekolah berpacu keras. Namun, begitu melangkahkan kaki di atas papan panggung, Bilal bagai bertransformasi. Rasa canggung yang dulu menghantuinya lebur diterjang keberanian. Ia menguasai panggung dengan gaya yang begitu lepas, jenaka, dan luwes. Materi humor yang diracik bersama Pak Fajar dan Pak Sarindi mengalir seperti air terjun yang menyegarkan, mengundang derai tawa serta decak kagum dari para juri dan penonton.
Piala Kejayaan dan Pengalaman Emas
Usaha maksimal yang dibalut doa tak pernah mengkhianati hasil. Saat pengumuman kejuaraan dibacakan, nama Bilal Rizqi Choyuna membahana sebagai Juara 3 Ndagel Ijen tingkat Kecamatan Dukun.
Bagi Bilal, piala yang ia genggam bukan sekadar benda logam berkilau, melainkan simbol peruntuhan rasa takut diri dan penemuan jati diri. Ia membawa pulang sebongkah pengalaman emas yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan: merasakan bagaimana rasanya menguasai panggung besar dan dipuji atas kecintaannya pada bahasa daerah. Kemenangan ini juga melengkapi jejak gemilang SDN Banyubiru yang pulang dengan dada tegak membawa enam piala kebanggaan.
Penulis: Fajar Ardi Saputra, sang Pemantik Bakat.
Apakah Anda menyukai artikel literasi ini? Berikan apresiasi Anda:
Klik tombol hati di atas untuk memberikan apresiasi pada karya tulis guru.


Posting Komentar