Harmoni Tiga Jiwa dalam "Solah Gumregat"
Tepat pada tanggal 12 Mei 2026, panggung FLS3N saksi bisu dari lahirnya sebuah mahakarya bertajuk "Solah Gumregat". Karya ini bukan sekadar gerak tanpa makna, melainkan sebuah garapan tari kreasi yang bernapas dinamis, mengadopsi ketegasan dan esensi magis dari gerak Topeng Ireng yang mengakar kuat di bumi lereng Merapi.
Tarian ini menenun sebuah cerita mendalam tentang tiga pekerjaan yang berbeda. Meski terpisah oleh sekat profesi, interaksi hangat nan jenaka menyatukan ketiganya dalam sebuah harmoni. Sebuah pengingat yang mengetuk pintu sanubari akan panggilan jiwa untuk tetap menjaga dan merawat nyala api tradisi agar tak padam digilas zaman.
Di balik layar yang megah, ada tangan-tangan dingin yang menjadi jangkar perjuangan mereka. Sentuhan estetis dari koreografer Mashayu Rhinanda Avrellia, dentuman aransemen magis dari komposer Kabanyunan Studio, serta pesona elok dari tata rias Loh Sari Larasati, berpadu sempurna dengan bimbingan penuh kasih dari sang pendamping sekolah, Fajar Ardi Saputra dan Tutut Damayanti. Kerja sama yang solid ini adalah simfoni indah yang mengantarkan mereka menuju gerbang keberhasilan.
Alhamdulillah, perjuangan berdarah-darah itu berbuah manis. Langkah tegap dan senyum binar mereka berhasil memikat hati para juri dan menyabet gelar Juara 3. Sebuah torehan prestasi yang mengukir senyum bangga di wajah seluruh warga sekolah.
Nyala Tradisi yang Terus Berpendar
Dari Alvera, Hafizh, dan Salwa, kita belajar bahwa seni tradisional bukanlah masa lalu yang usang, melainkan masa depan yang terus bergerak dinamis. Selama detak jantung anak-anak bangsa masih selaras dengan ritme gamelan, maka sekencang apa pun angin modernisasi menerpa, akar budaya kita akan tetap menghujam kuat ke bumi.
Ditulis oleh: Fajar Ardi Saputra, sang Penjaga Nyala Lentera Seni Budaya
Apakah Anda menyukai artikel literasi ini? Berikan apresiasi Anda:
Klik tombol hati di atas untuk memberikan apresiasi pada karya tulis guru.


Posting Komentar