Adalah Deco Nur Ahmad Fitra, seorang anak kecil bertubuh mungil namun berjiwa raksasa, yang melangkah pasti mewakili barisan putra. Di sisinya, mengiringi melodi perjuangan yang sama, hadir Khansa Marwa Maulida, sang srikandi yang mewakili barisan putri.
Badai Latihan di Balik Layar
Perjalanan menuju panggung kompetisi tidaklah bertabur bunga, melainkan dipenuhi keringat dan pengorbanan. Bagai meniti buih di tengah lautan, Deco dihadapkan pada tantangan yang menguji batas kemampuannya. Ia tidak hanya memegang satu tombak perjuangan; Deco terpilih untuk mewakili berbagai macam perlombaan sekaligus.
Ia harus berlatih bercabang-cabang. Ketika pikiran harus terbelah dan fokus terkoyak, Deco tidak memilih untuk mundur. Jiwanya sekeras karang yang enggan hancur oleh hantaman ombak. Hari-hari dilewati dengan memahat ide, merangkai kata demi kata dalam bahasa Jawa, ditemani oleh sosok pelita dalam gulita, sang guru kesayangan: Fajar Ardi Saputra. Dengan sabar, sang guru menuntun jemari-jemari mungil itu agar mampu menari dengan indah di atas kertas.
Hari Penentuan: 4 September 2025
Ketika fajar menyingsing pada tanggal 4 September 2025, genderang perang kreativitas resmi ditabuh di tingkat Kecamatan Dukun. Deco dan Khansa berdiri tegak, membawa nama baik sekolah di pundak mereka. Pena mereka mulai menari, menumpahkan imajinasi yang telah diasah berhari-hari.
Setelah melalui persaingan yang sengit, takdir membawa pengumuman yang menggetarkan dada. Deco Nur Ahmad Fitra berhasil keluar sebagai Juara 2 Menulis Cerkak tingkat Kecamatan Dukun. Sementara itu, dewi fortuna belum berpihak pada Khansa Marwa Maulida; ia belum berhasil membawa pulang piala.
Namun, di mata sang guru, Fajar Ardi Saputra, hasil di atas kertas hanyalah deretan angka. Kegagalan dan kemenangan adalah dua sisi dari koin yang sama bernama perjuangan. Dengan senyum hangat yang menyejukkan jiwa, Fajar memeluk sanubari kedua anak didiknya seraya berbisik:
"Kalian berdua adalah pemenang yang sesungguhnya. Penampilan kalian sudah sangat hebat, tak kalah berkilau dengan para juara lainnya di luar sana."
Keikhlasan Sang Jiwa Kesatria
Sebagai anak kecil yang memiliki mimpi setinggi langit, Deco tak mampu menyembunyikan riak kecewa di matanya. Sorot matanya sempat meredup, sebab jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat mendambakan podium pertama. Harapannya untuk menggenggam Juara 1 sempat menjadi beban yang menggelayuti pundaknya.
Namun, waktu adalah obat terbaik bagi hati yang bijak. Seiring berjalannya hari, awan mendung di wajah Deco berganti menjadi pelangi keikhlasan. Bocah luar biasa yang berhasil menaklukkan setiap jengkal tantangan ini menunjukkan kedewasaan yang melampaui usianya. Dengan senyum tulus, ia melontarkan kalimat mutiara yang menyentuh hati:
"Jika aku tidak ikut lomba ini, aku tidak akan pernah mempunyai pengalaman."
Sebuah untaian kalimat yang membuktikan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, dan keikhlasan adalah mahkota tertinggi dari seorang pemenang. Deco telah membuktikan bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang piala yang dipajang di lemari, melainkan tentang mental baja dan ilmu yang tertanam di dalam dada.
SD Negeri Banyubiru 2 boleh berbangga, sebab dari rahim sekolah ini, telah lahir bintang-bintang muda yang siap menerangi masa depan dengan bahasa dan sastra.
Sang Penulis,
Fajar Ardi Saputra, sang pemahat mimpi dan pengasuh tunas-tunas bangsa.
Apakah Anda menyukai artikel literasi ini? Berikan apresiasi Anda:
Klik tombol hati di atas untuk memberikan apresiasi pada karya tulis guru.

.jpeg)

Posting Komentar