Kini, lembaran tahun ajaran baru kembali menyapa dengan aroma buku yang masih segar, dan untuk kesekian kalinya, pundak yang masih sendiri ini kembali memikul amanah yang sama: menjadi nakhoda utama bagi anak-anak kelas 1 di SDN Banyubiru 2.
Mengajar kelas 1 adalah sebuah paradoks yang nyata dan melelahkan. Waktunya memang paling singkat di antara kelas lainnya, namun tenaganya terkuras hebat layaknya dihantam ombak yang tak kenal surut. Jam dinding seolah berlari kencang memotong durasi mengajar, tetapi setiap detiknya menyedot seluruh energi raga saya hingga ke sumsumnya. Kami, para penjaga gerbang awal pendidikan ini, tidak hanya memeras pikiran untuk mengeja huruf, melainkan menguras habis seluruh napas kehidupan demi menertibkan jiwa-jiwa yang masih ingin terbang bebas.
Menariknya, di dalam ruang segi empat itu, saya bukanlah sosok malaikat tak bersayap yang selalu mengumbar senyum manis nan teduh. Saya adalah guru yang terkenal galak, bertangan besi, dan bersuara keras bagai petir yang membelah ruangan saat disiplin harus ditegakkan demi sebuah keteraturan. Namun, di sinilah letak sihirnya. Ketegasan saya rupanya menjelma menjadi magnet tak kasat mata yang justru menarik mereka untuk melangkah lebih dekat. Alih-alih menjauh ketakutan karena gertakan sang singa kelas, anak-anak itu justru lengket bak perangko yang enggan lepas, merubung tubuh saya layaknya sekawanan semut yang menemukan bongkahan gula paling manis. Bagaimana mungkin seorang lelaki lajang yang kaku dan garang bisa menjinakkan kawanan merpati kecil yang tak bisa diam?
Pertanyaan skeptis itu akhirnya luluh dan terjawab jua oleh sang waktu. Kesabaran yang semula saya pikir setipis selembar tisu, ternyata perlahan mengembang dan mendalam bagai samudera luas tak bertepi. Kepercayaan dari para wali murid pun mengalir deras tanpa bendungan, membasuh segala keraguan dan stereotip lama bahwa kelas 1 harus selalu dipegang oleh seorang perempuan. Di lorong-lorong sekolah, rekan-rekan sejawat pun kerap melempar canda yang menggelitik telinga. Mereka menyematkan gelar kehormatan yang unik: "Maskot dan Ikon Kelas 1". Sebuah julukan yang awalnya membuat daun telinga saya memerah karena malu, namun kini saya dekap erat dengan dada yang lapang sebagai sebuah kebanggaan.
Popularitas yang tidak pernah saya minta ini ternyata melahirkan "bencana" yang teramat manis dalam keseharian saya di sekolah. Saya sering kali merasa seperti boneka yang diperebutkan, diseret ke sana kemari oleh angin harapan dan kasih sayang yang tulus dari anak-anak. Bukan hanya anak-anak kelas 1 yang mendewakan kehadiran saya, tetapi murid-murid dari kelas tinggi pun kerap merengek manja, meminta dan mendambakan agar saya bersedia naik kelas untuk menjadi wali kelas mereka di tahun berikutnya.
Penulis: Fajar Ardi Saputra, sang maskot bujangan yang menemukan arti menjadi "bapak" di balik riuhnya ruang kelas 1 SDN Banyubiru 2.
Apakah Anda menyukai artikel literasi ini? Berikan apresiasi Anda:
Klik tombol hati di atas untuk memberikan apresiasi pada karya tulis guru.


Posting Komentar