Di dunia yang bising oleh kata-kata tanpa makna, keheningan acapkali menyimpan badai kreativitas yang tak terduga. Hal inilah yang dibuktikan oleh Reza Putra Ramadhan, seorang siswa dari SD Negeri Banyubiru 2. Remaja yang sekilas tampak biasa, tak banyak bicara, dan jauh dari citra seorang pujangga ini, ternyata menyimpan samudra imajinasi yang siap mengguncang panggung budaya di balik ketenangannya.
Bersama sang lentera penuntun—Fajar Ardi Saputra, sang guru kesayangan yang kerap dijuluki “Sang Arsitek Kata” karena kepiawaiannya merajut potensi emas anak didiknya—Reza berhasil mengukir tinta emas dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun 2024 cabang Nulis Cerkak (Cerita Cekak). Sebuah perjalanan magis dari keraguan yang menjelma menjadi kebanggaan.
Langkah Awal: Menepis Ragu di Tingkat Kecamatan
Kisah ini bermula pada 25 September 2024. Langkah kaki Reza awalnya dibayangi kabut keraguan. Guratan tulisannya saat itu belum seindah pelangi, bahkan sempat memicu tanya. Banyak yang tak menyangka, anak yang sehari-hari "irit bicara" ini berani menantang lembaran putih kosong.
Namun, tekad siswa SD Negeri Banyubiru 2 ini telah bulat, sekeras batu karang. Ketika pena mulai menyentuh kertas, imajinasinya menari-nari dengan liar, memecah kesunutian. Kata demi kata dirajutnya hingga menjadi untaian cerita yang luar biasa—sebuah narasi yang begitu hidup, kaya akan pesan mendalam, dan mampu membius siapa saja yang membacanya.
Tak disangka, Reza keluar sebagai Juara 1 Tingkat Kecamatan. Langkah awal yang manis ini tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga mengantarkannya menjadi panglima bahasa yang siap bertarung di level berikutnya.
Gemuruh di Tingkat Kabupaten: Sihir Kata yang Menjadi Nyata
Hanya berselang beberapa hari, tepatnya pada 3 Oktober 2024, medan pertempuran baru telah menanti di Tingkat Kabupaten. Kali ini, beban di pundak Reza semakin berat, membawa nama baik sekolah dan seluruh kecamatannya.
Di sinilah keajaiban itu kembali lahir. Di bawah tatapan hangat dan bimbingan tanpa lelah dari Pak Fajar, jemari Reza kembali melahirkan sihir. Jalinan cerita yang ia rakit tidak sekadar luar biasa, tetapi juga memiliki "jiwa" yang menggetarkan emosi. Pena di tangannya seolah menjelma menjadi tongkat sihir yang meraba sukma pembaca. Melalui diksi dan kalimat indah yang ia susun dengan hati, Reza kembali menumbangkan keraguan.
Dewi fortuna kembali berpihak padanya. Gelar Juara 1 Tingkat Kabupaten sukses didekapnya. Kemenangan ini menegaskan bahwa keterbatasan lisan bukanlah penghalang ketika hati dan pikiran mampu berbicara lewat aksara yang dahsyat.
Menjemput Impian di Pesisir Jepara
Puncak dari segala peluh dan air mata itu terjadi pada 22 hingga 24 Oktober 2024. Reza, dengan didampingi sosok guru pelindungnya, sang Arsitek Kata, melangkah dengan tegap menuju kompetisi Tingkat Provinsi.
Ballroom 3 Ono Joglo Resort and Convention, Jepara, menjadi saksi bisu tempat bertemunya para maestro muda dari berbagai penjuru daerah. Di bawah deburan ombak Jepara yang saling berkejaran, Reza membawa karya cerkak terbaiknya yang luar biasa, membawa misi besar: menjaga kelestarian bahasa ibu.
Perjalanan ini bukan lagi sekadar tentang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana sebuah tekad dan bimbingan yang tulus mampu mengubah keraguan menjadi sebuah mahakarya. Dari bangku SD Negeri Banyubiru 2, kini Reza Putra Ramadhan telah berdiri tegak sebagai kesatria sastra, membuktikan bahwa imajinasi adalah sayap yang mampu membawa siapa saja terbang melintasi batas ketidakmungkinan.
Penulis: Fajar Ardi Saputra (Sang Arsitek Kata)
Apakah Anda menyukai artikel literasi ini? Berikan apresiasi Anda:
Klik tombol hati di atas untuk memberikan apresiasi pada karya tulis guru.


Posting Komentar